Di hari Sumpah Pemuda 2009, pusat-pusat POSS (Pendayagunaan Open Source Software) kembali berkumpul di Jakarta mengadakan workshop yang ke 5. Artinya sudah dua setengah tahun program POSS yang dipelopori ristek ini berjalan. Isu hangat yang jadi bahasan adalah, bagaimana mempertahankan kesinambungan POSS ?
Jika merujuk pada skema asli Ristek, sesungguhnya POSS didirikan di perguruan tinggi karena dianggap punya cukup orang pintar untuk melakukan inovasi open source. Sementara itu pasangannya, yaitu Igos Center, lebih sebagai etalase. Karena itu, tepat sekali yang dikatakan oleh POSS UNTAR, bahwa seharusnya yang harus dipikirkan adalah mengembangkan alat maupun metode agar open source lebih mudah dimasyarakatkan. Sayangnya, sampai saat ini hampir semua POSS masih berkutat pada masalah operasional (yang mestinya diserahkan ke Igos Center).
Kesampingkan dulu skema meleset tersebut, mari hadapi realita bahwa POSS perlu kesinambungan, yang dalam kasus paling hebat, tanpa perlu didukung dana dari Ristek lagi. Untuk itu, POSS harus berbisnis open source. Dalam hal ini, bisnis open source perlu banyak akal karena secara legal, produk open source tak boleh dijual langsung. Pilihan yang ada adalah:
- Kerja amal saja dan menunggu donasi.
- Menjual souvenir (seperti Richard Stallman yang jauh-jauh keliling dunia cuma jualan pin dan gantungan kunci ;).
- Pelatihan open source, kalau bisa hingga sertifikasi.
- Migrasi, instalasi dan pemeliharaan sistem open source.
- Kustomisasi dan pengembangan berbasis open source.
- Menjual produk bundel dengan open source.
- Menyediakan layanan aplikasi maupun konten.
Dari semua pilihan tersebut, tahap 1 dan 2 sama sekali tidak membutuhkan keahlian open source. Sementara itu bisnis 3 dan 4 memerlukan kompetensi sedang, dan kalau naik ke bisnis 5 diperlukan keahlian yang benar-benar tinggi. Tahap nomor 6 dan 7 perlu sumber daya manusia mumpuni, juga modal besar.
Nah, mampukan POSS dengan kondisinya sekarang melakukan bisnis dengan benar ? Jika melihat para aktifis yang berkumpul, semuanya adalah dosen-dosen yang keahlian utamanya adalah mengajar dan mengkoordinasi. Untuk tenaga kompeten, yang diandalkan adalah mahasiswa. Mengingat mahasiswa selalu mengalir, rasanya sangat sulit menjaga aset pengetahuan (knowledge asset) kecuali dosennya memang benar-benar mumpuni. Dalam kondisi demikian, bisnis yang layak (feasible) untuk dimasuki hanyalah sebatas pelatihan, paling tinggi migrasi dan instalasi. Atau jika mau kembali ke skema yang disarankan riset, inovasi open source seharusnya menjadi andalan POSS, dan kemudian bekerja sama dengan swasta masuk ke bisnis 6 atau 7.