Outlet Igos Center di BE-Mall Pelatihan guru-guru Disdik Cimahi Pelatihan calon teknisi open source Pemkot Cimahi Sentra Percontohan lab open source SMK Negeri I Cimahi Pelatihan guru Al-Irsyad Sata Padalarang

Education Shall Exclusively Teach Free Software

Posted by: kocil | October 28, 2009 |

Judul itu adalah petuah Richard M. Stallman dalam seminar Free Software Movement (FSW) tanggal 28 Oktober 2009 di Ristek Jakarta. Menurut beliau, ada tiga alasan utama dari yang pragmatis :

  1. Hemat biaya
  2. Mendukung ‘natural born programmer‘.
  3. Pendidikan moral.

SeminarFSW04TheSaint.JPG

Mari kita bahas terbalik, dari yang idealis dulu. Sebagai dewanya, Richard M. Stallman selalu gembar gembor bahwa FSW adalah gerakan dengan semangat berniat baik (spirit of good will). Di Indonesia, katanya dengan ucapan bahasa Indonesia yang lumayan fasih, disebut ‘gotong royong’. Oke, dia benar sekali. Budaya asli Indonesia itu tinggal ada di pedesaan. Di perkotaan, orang lebih suka ‘out sourcing‘ dari pada merepotkan tetangga atau saudara. Rasanya FSW memang menjadi bukti nyata bahwa dengan niat baik, kita bisa membuat karya yang berguna bagi sesama tanpa pamrih dan juga sebaliknya, kita juga belajar menghargai orang yang sudah berniat baik, sekecil apapun karyanya. Murid-murid kita sangat perlu itu untuk memupuk karakter percaya diri dan ikhlas.

Selanjutnya, apa peran FS mendukung anak berbakat memrogram ? Ketika murid-murid belajar memakai GIMP misalnya, mereka akan trampil sebagai pengguna dan mampu membuat karya grafis yang indah. Namun sebagian murid yang memang berbakat akan penasaran, bagaimana cara kerja program tersebut ? Dengan FSW, kata Richard, guru akan bisa menunjukkan pada murid-murid istimewa itu kode sumber dari si program dan mulai menguliknya. Guru bahkan mungkin tak perlu menjelaskan dengan dalam, karena untuk ‘natural born programmer‘, kode sumber terlihat biasa (obvious) seperti membaca cerita saja. Well, ini mungkin bagai punguk merindukan bulan, namun FSW setidaknya membuka pintu selebar-lebarnya jika memang ada murid yang istimewa tersebut. Dengan perangkat lunak propriatery, mereka tamat hanya sebagai pemakai biasa.

Alasan ketiga, biaya rendah. Ini alasan pragmatis yang benar-benar kena. Namun untuk yang satu ini, vendor propriatery biasanya menangkis dengan memberikan pakek gratis khusus untuk sekolah. Kata Richard, itu bagaikan narkoba (drug) yang sengaja diberikan agar murid ketagihan. Jika sudah ketagihan, nanti saat mereka lulus, mereka akan bekerja dan harus membeli.

Untuk kasus ini, ada satu contoh (dengan sedikit malu nih ceritanya). ITB punya perjanjian kerjasama dengan M$ untuk kalangan mahasiswa dan dosen, tersedia paket standar seharga Rp 10.000 (berisi MS WIndows dan MS Office) dan paket komplit Rp 20.000 (standar plus MS Visual Studio). Kerjasama ini dengan sukses menghapus software bajakan dari ITB (karena beli DVD bajakan Rp 30.000). Namun di sisi lain, ini juga membuat SK Rektor yang menghimbau pemakaian open source di kampus menjadi tertiup angin terbang ke laut. Yah, ini mirip-mirip kisah deklarasi IGOS oleh menteri sementara presiden jabat tangan dengan Bill Gates ;)

Sekitar tahun 1995-an, Pak Onno W. Purbo dan Pak Budi Raharjo dengan sukses memelopori pemakaian Free BSD dan GNU/Linux di ITB. Pokoknya, kalau belum bisa salah satu dari itu, jangan harap masuk ARC (klub administrator kampus) atau jadi asisten Comlabs (lab komputer kampus). Dampak masuknya paket hemat M$ perlahan-lahan mengikis hasil kerja kedua tokoh itu. Kini asisten pengoprek Linux adalah makhluk langka di Comlabs, sementara di ARC sebagian server migrasi ke Windows Server. Pak Benhard, ketua POSS ITB, bahkan sempat berujar kalau memasukkan OSS bagai menghadapi the untouchables. Di tengah kondisi yang nampak shameless dan hopeless itu, Comlabs membuat terobosan dengan memaksa praktikum Pengenalan Teknologi Informasi bagi seluruh mahasiswa baru ITB, mulai menggunakan Open Office. Biar masih versi for Windows, ini adalah langkah maju menuju idealisme tadi … Education Must Exclusively Teach Free Software !

under: Opini
Tags: , , ,

Responses -

seperti kata pak RMS, free propietiary software itu seperti addictive drugs.. =D

loh kemarin dateng toh pak?

Hi Zahris. Apa kabar. Kami datang berempat lho. Saya seperti lihat Zahris, duduk di baris kedua, cuma yang mirip hanya badannya, wajahnya agak beda. Jadi ragu menyapa.

Leave a response -

Your response: